crow-post.blogspot.com

Indonesia Tanggung Jawab Kita, Kawan! (sebuah kutipan dari Buletin EM-UB edisi Oktober 2013)

Bambu runcing kita tak cukup mampu untuk melawan berbagai persenjataan mutakhir milik penjajah di jaman itu. Terlebih lagi perjuangan bangsa Indonesia masih terpecah, tanpa adanya komando penyatu kekuatan para pejuang yang rela mati demi mewujudkan Indonesia yang merdeka. “Merdeka ataoe Mati”, semboyan yang senantiasa didengungkan dengan lantang tanpa gentar. Itulah salah satu bentuk semangat patriotisme yang terus menerus berkobar di dalam dada, semangat berjuang tanpa pamrih.

Sekitar 85 tahun lalu, Waltervreden (sekarang Jakarta), 27 - 28 Oktober 1928 diadakan suatu kongres pemuda yang merupakan cikal bakal persatuan Indonesia. Berawal dari kongres inilah para pemuda Indonesia merapatkan barisan, sadar akan pentingnya bersatu. Bukan hanya dari Jawa, namun dari seluruh Indonesia. Bukan hanya kaum pribumi, akan tetapi dari berbagai etnis. Tanpa peduli darimana berasal, acuhkan SARA dan lupakan status sosial. Dalam Kongres ini, Pemuda Indonesia mengikrarkan Bertumpah Darah Satu, Tanah Air Indonesia; Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia; dan Menjujung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. Terbukti, dari persatuan itulah Ibu Pertiwi berhasil merdeka.


Kemerdekaan ini bukan hasil pemberian, namun adalah hasil perjuangan rakyat Indonesia. Berapa nyawa terenggut paksa? Berapa tetes darah yang tumpah? Berapa orang cacat karena perang? Berapa anak kehilangan ayah? Berapa wanita menjanda? dan masih banyak lagi hal menyedihkan lainnya. Pernahkah mereka mengeluh? Pernahkah mereka menuntut negara kita yang kaya akan sumber daya alam ini untuk menebus pengorbanan mereka? Masih mampukah kita acuh terhadap negara ini? Masih banggakah kita menggunakan dan mengikuti budaya asing? Masih pantaskah kita berkata “Aku Bangga menjadi Warga Indonesia”, bila kita masih memandang rumput negeri jiran lebih hijau daripada rumput negeri Zamrud Khatulistiwa kebanggaan kita?

Kalian kira ada yang salah pada negeri penuh anugerah ini? Negeri dengan tanah subur, kekayaan laut melimpah dan sumber daya alam menakjubkan. “Tak ada yang salah pada negeri ini!!!”. Mengapa kita melupakan adanya generasi egois yang telah mencabik-cabik Ibu Pertiwi? Generasi yang mengelola Indonesia dengan nafsu diri sendiri atau kelompok mereka. Berapa kasus korupsi terungkap? Masih kurang kah gaji mereka dari hasil menjual berbagai potensi Nusantara kepada pihak asing? Perut Ibu Pertiwi sudah mulai terkuras habis oleh sejumlah negara asing. Lalu mengapa kita pesimis terhadap negeri tercinta? Bukankah yang salah adalah oknum-oknum rakyat Indonesia yang mementingkan perut mereka sendiri?

Saat inilah kawan, kita perlu kembali junjung tinggi persatuan. Obati Ibu Pertiwi yang mungkin sakit parah. Buktikan kita tak kalah hebat dengan para pejuang di masa penjajahan dan masa mempertahankan kemerdakaan. Kita sungguh beruntung, tak perlu kehilangan ayah karena perang, tak perlu hidup di bawah penindasan para penjajah, tak perlu tumpahkan darah demi terkibarnya Sang Saka Merah Putih, dan masih sangat banyak lagi keberuntungan yang kita dapatkan berkah dari merdekanya Republik Indonesia.

Apa kalian kecewa dan pesimis terhadap generasi yang kini tengah memegang kendali di negeri ini? Kalau begitu, buktikan generasi kita mampu mengemban amanat mengelola Nusantara ini menjadi lebih baik. Tak hanya baik secara perekonomian, namun juga secara moral dan ahlak. Lalu dengan bangga mengatakan bahwa inilah budaya-budaya Indonesia, bukan malah mengagungkan budaya-budaya asing yang belum tentu sesuai dengan negeri kita. Ingatlah wahai para pemuda, kalian lah pemegang tongkat estafet pemerintahan negeri ini. Buatlah prestasi sedini mungkin, tak hanya di tingkat regional, namun terutama di tingkat Internasional. Kibarkan sang saka merah putih di berbagai negara. Tarik perhatian dunia pada Indonesia yang begitu hebat. Bukan hanya luar biasa Sumber Daya Alamnya, akan tetapi juga Sumber Daya Manusianya. “Indonesia segera menjadi tanggung jawab kita, kawan!”.

0 comment:

Posting Komentar

Copyright © Crow - Post