Bambu runcing kita tak cukup
mampu untuk melawan berbagai persenjataan mutakhir milik penjajah di
jaman itu. Terlebih lagi perjuangan bangsa Indonesia masih terpecah,
tanpa adanya komando penyatu kekuatan para pejuang yang rela mati demi
mewujudkan Indonesia yang merdeka. “Merdeka ataoe Mati”, semboyan yang
senantiasa didengungkan dengan lantang tanpa gentar. Itulah salah satu
bentuk semangat patriotisme yang terus menerus berkobar di dalam dada,
semangat berjuang tanpa pamrih.
Sekitar 85 tahun lalu, Waltervreden (sekarang Jakarta), 27 - 28 Oktober 1928 diadakan suatu kongres pemuda yang merupakan cikal bakal persatuan Indonesia. Berawal dari kongres inilah para pemuda Indonesia merapatkan barisan, sadar akan pentingnya bersatu. Bukan hanya dari Jawa, namun dari seluruh Indonesia. Bukan hanya kaum pribumi, akan tetapi dari berbagai etnis. Tanpa peduli darimana berasal, acuhkan SARA dan lupakan status sosial. Dalam Kongres ini, Pemuda Indonesia mengikrarkan Bertumpah Darah Satu, Tanah Air Indonesia; Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia; dan Menjujung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. Terbukti, dari persatuan itulah Ibu Pertiwi berhasil merdeka.
Sekitar 85 tahun lalu, Waltervreden (sekarang Jakarta), 27 - 28 Oktober 1928 diadakan suatu kongres pemuda yang merupakan cikal bakal persatuan Indonesia. Berawal dari kongres inilah para pemuda Indonesia merapatkan barisan, sadar akan pentingnya bersatu. Bukan hanya dari Jawa, namun dari seluruh Indonesia. Bukan hanya kaum pribumi, akan tetapi dari berbagai etnis. Tanpa peduli darimana berasal, acuhkan SARA dan lupakan status sosial. Dalam Kongres ini, Pemuda Indonesia mengikrarkan Bertumpah Darah Satu, Tanah Air Indonesia; Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia; dan Menjujung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. Terbukti, dari persatuan itulah Ibu Pertiwi berhasil merdeka.
RSS Feed
Twitter

